Kewirausahaan (Tugas Review Jurnal)

 Pengembangan UMKM Melalui Digitalisasi Teknologi dan Integrasi Akses Permodalan


A.    Latar Belakang

Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) memegang peranan yang sangat besar dalam memajukan perekonomian Indonesia. UMKM merupakan suatu bentuk usaha kecil masyarakat yang pendiriannya berdasarkan inisiatif seseorang, sehingga dapat menurunkan tingkat pengangguran di Indonesia.

Tantangan dan peluang industri 4.0 mendorong inovasi dan kreasi dari seluruh lapisan masyarakat agar dapat bertahan dalam era globalisasi. UMKM sebagai leading sektor usaha di Indonesia harus dapat meniyesuaikan kegiatan poduksi dan pemasaranya sesuai dengan perkembangan jaman. Terlebih di era digitalisasai saat ini, pelaku usaha seharusnya dapat lebih mengefisiensikan biaya promosi melalui promosi secara online. Kenyataanya keadaan ini belum dapat termanfaatkan dengan baik oleh pelaku UMKM, khususnya yang ada di desa.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan peningkatan jejaring bisnis dan akses permodalan untuk UMKM. Salah satu upaya yang dapat dilaksanan adalah dengan melaksanakan “Program pendampingan Pengembangan UMKM melalui Digitalisasi Teknologi dan Integrasi Akses Permodalan.” Tujuan program kegiatan pengabdian ini adalah meningkatkan kesadaran, teknik pemasaran produk, distribusi barang hasil produksi pelaku serta pengetahuan akses permodalan UMKM dalam perekembangan teknologi di Era Revolusi Industri 4.0.

 

B.     Metode

Metode yang diterapkan untuk mencapai pemecahkan permasalahan ini adalah metode sistem tindakan dan pembelajaran yang partisipatif yang dikenal sebagai metode PLA (Participatory Learning and Action). Dengan metode PLA, proses dan evaluasi dilaksanakan secara partisipatif.

PLA merupakan bentuk baru dari metoda pemberdayaan masyarakat yang dahulu dikenal sebagai “learning by doing” atau belajar sambil bekerja. Secara singkat, PLA merupakan metoda pemberdayaan masyarakat yang terdiri dari proses belajar tentang suatu topik, pengolahan, pemeliharaan, dan lain sebagainya setelah itu diikuti aksi atau kegiatan riil yang relevan dengan materi pemberdayaan masyarakat tersebut.

 

C.    Hasil Pembahasan

Dalam kegiatan pengembangan UMKM di Desa Sindangkasih Kecamatan Beber Kabupaten Cirebon materi yang disampaikan diantaranya kewirausahaan, peluang dan kendala bisnis UKM, permodalan UKM, dan perancangan keuangan. Berikut perubahan yang terjadi pada pelaku usaha setelah dilakukan pendampingan:

1.      Kewirausahaan

Pelaku usaha yang sebelumnya belum mengetahui prinsip-prinsip dasar kewirausahaan, belum dapat memisahkan antara biaya produksi dengan pengeluaran rumah tangga, dan belum termotivasi untuk memajukan usaha yang ada, setelah dilakukan pendampingan pelaku usaha dapat memahami prinsip kewirausahaan, dapat memisahkan antara biaya produksi dengan pengeluaran rumah tangga serta termotivasi untuk memajukan usaha yang sudah dijalankan.

2.      Peluang dan kendala bisnis UKM

Pelaku usaha yang sebelumnya belum memahami kendala-kendala yang terjadi dalam bisnis, belum dapat menjelaskan tantangan dan peluang dalam usaha, dan belum dapat memahami struktur usaha yang dijalankan, setelah dilakukan pendampingan pelaku usaha dapat memahami kendala-kendala yang dapat timbul dari usaha yang dijalankan, memahami peluang usaha dalam mengembangkan usaha, memahami struktur usaha yang dijalankan serta memahami pengelolaan usaha yang baik dalam mengendalikan resiko yang mungkin terjadi.

3.      Permodalan UMKM

Beberapa kesulitan yang dialami pelaku usaha sebelum dilakukan pendampingan diantaranya kesulitan menentukan jumlah modal yang dibutuhkan, kesulitan mendapatkan akses permodalan dan menentukan penggunaan modal usaha serta dalam mengelola modal yang ada saat ini, setelah dilakukan pendampingan pelaku usaha memahami jenis-jenis permodalan yang dapat diakses untuk modal usahanya, pentingnya modal usaha untuk kegiatan produksi bukan konsumsi, memahami pengelolaan modal usaha agar tidak terjebak dalam hutang berlebihan serta memahami bahwa modal usaha bisa didapat dengan cara kerjasama usaha dengan mencari investor.

4.      Perencanaan Keuangan

Pelaku usaha yang sebelumnya belum mengetahui fungsi dan proses perencanaan keuangan, belum memahami komponen biaya yang masuk ke modal awal usaha, belum bisa menentukan margin usaha, Break Even Point (Titik impas usaha), serta belum bisa memproyeksikan periode pengembalian modal, setelah dilakukan pendampingan pelaku usaha memahami fungsi perencanaan untuk menentukan target usaha baik jangka pendek maupun jangka panjang serta dapat memahami proses perencanaan keuangan yang terdiri dari penentuan modal awal, HPP, harga jual, BEP, proyeksi laba dan periode pengembalian modal.

 

Secara umum kegiatan pendampingan yang dilakukan sebagai berikut:

1.     Tahap awal: sosialisasi mengenai perkembangan teknologi bagi pelaku UMKM.

Kegiatan ini dilakukan dengan penyampaian materi mengenai teknologi pemasaran yang berkembang saat ini serta sosialisasi mengenai contoh kemasan produk yang digemari masyarakat. Kemajuan teknologi memudahkan pelaku usaha untuk membuat produknya lebih efektif dan efisien serta ramah lingkungan.

2.  Tahap kedua: pelatihan mengenai kemasan produk yang lebih modern dan lebih diminati masyarakat saat ini.

Setelah melakukan sosialisasi, pelaku usaha diberikan pelatihan untuk membuat design kemasan, merk dagang dan komposisi yang tepat dalam pengemasan produknya. Tujuan diberikan pelatihan agar mereka tidak hanya tahu tapi juga mampu mempraktekannya di usaha yang mereka jalani sehingga produk yang dihasilkan dapat bernilai jual tinggi.

3.     Tahap ketiga: pelatihan mengenai perencanaan usaha.

Pelatihan ini meliputi menghitung biaya produksi, harga pokok produksi, biaya investasi hingga laba yang diinginkan sehingga pelaku usaha dapat membuat perencanaan usaha yang baik. Dengan perencanaan yang baik diharapkan dapat membuat laporan keuangan sederhana sehingga dapat menarik investor atau debitur untuk memberikan modal kepada pengembangan usaha yang mereka jalani saat ini.

 

D.    Kesimpulan dan Saran

·         Kesimpulan

Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi, pemasaran produk UMKM dilakukan tidak hanya melalui offline namun melalui online sehingga biaya pemasaran jadi lebih efektif dan efisien serta peningkatan distribusi produk yang dipasarkan pun sudah sampai keluar daerah.

Setelah dapat membuat perencanaan usaha yang baik, akses permodalan mengalami peningkatan, dahulu produksi yang dihasilkan masih dalam skala kecil, saat ini usaha yang dijalankan lebih berkembang dengan peningkatan skala porduksi.

·         Saran

a.   Diperlukan dukungan dari semua stakeholder (Dinas Koperasi & UMKM Kab. Cirebon atau lembaga terkait), sehingga pengembangan kapasitas UMKM Tenant dapat berjalan dengan efektif.

b.   Dibutuhkan program kelanjutan sehingga mengarah pada peningkatan kapasitas UMKM Tenant baik dalam bentuk peralatan maupun akses permodalan, serta fasilitasi promosi melalui pameran tingkat Kabupaten, Provinsi, maupun Nasional.

c.  Perlu dihasilkan program pengembangan UMKM Tenant melalui teknologi informasi dengan didukung oleh e-marketing berbasis web.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MIPA KIMIA

Kewirausahaan Islami

Kewirausahaan Islami